BI TABUNGANKU...Bang Bing Bung Bang, ayok Menabung..

Pada 20 Februari 2010 lalu pihak Bank Indonesia (BI) di seluruh Indonesia meluncurkan produk tabungan murah tanpa administrasi atau yang dikenal dengan nama "TabunganKu". Kira-kira apa ya yang menyebabkan BI ngeluarin tipe perbankan satu ni... apa mungkin masih banyak rakyat yang nyimpan duitnya dibawah kasur ya?? hehehe....

Secara memang jumlah penduduk dewasa di Indonesia atau yang berpotensi menabung mencapai 138 juta orang, tetapi yang menjadi penabung di perbankan hanya 58 juta orang saja. Kan berarti jumlah yang belum menabung sebanyak 80 juta orang, dan jumlah inilah yang menjadi sasaran produk "TabunganKu".

Menurut saya "Tabunganku" ada sisi baiknya dan ada juga sisi buruknya... Disatu sisi, para nasabah diuntungkan dengan tidak adanya biaya administrasi bulanan yang lumayan memberatkan (apalagi bagi penabung pasif kayak saya). Jika diambil contoh, kalo saldo rata2 mahasiswa di satu bank konvensional (ga bole sebut merek)cuma Rp.400.000 dan itupun konstan terus selama 5 bulan... duit bukannya nambah karna bunga, tapi tabungan awak malah bekurang karna potongan 10rebu perbulan... cepek deh...!!!.

Lantas, bagaimana dengan suku bunganya???... nice question.Untuk informasi, tingkat suku bunga "Tabunganku" per tahun pada bank umum konvensional adalah:
* saldo 0 - 500 ribu rupiah: bunga 0%
* saldo 500 ribu - 1 juta: bunga 0.25%
* saldo > 1 juta: bunga 1%
Hmm... masih rendah ya??? siapa bilang... kalo ini sih ukurannya relatif. Emang mau dibandingin ama tabungan di bank mana? ya.. terpaksa bawa merek dah kali ini... Kalo di BNI Taplus untuk saldo 1jt bunganya 1,75%. Nah, beda lagi ama BRI, untuk Britama dengan saldo 500rb bunganya jadi 2%... whaooo... Jadi bingung ya mau milih yang mana... Ntar deh kita buat post khusus cara milih bank, tapi milah-milih bank jangan dibahas disini dulu ya...
Nah kesimpulannya... kalo dipikir tingkat suku bunga "Tabunganku" lumayan menguntungkan, tidak rendah dan tidak juga tinggi...

Semoga saja "Tabunganku" merebut hati masyarakat dengan fitur non potongan bulanan dan suku bunganya... Dan juga semoga dapat membantu meningkatkan perekonomian bangsa dan semoga... dan semoga...

Tapi kalo aku punya duit sih masih prefer nabung pake emas... n dikit aja yang ditaroh di bank... Ntar kita bahas kenapa... c u....


Selengkapnya...

Hoegeng Imam Santoso... Sang Polisi Jujur

"Di Indonesia cuma ada 3 polisi yg ga bisa disuap. Pertama, Pak Hoegeng, Kedua, Patung Polisi, Ketiga, Polisi tidur!"
Gus Dur

Ia berani menolak sogokan. Ia berani membongkar ketidakbenaran.

Nama Hoegeng Imam Santoso mungkin kurang familiar. Tapi, kalau menyebut nama Hoegeng saja, pasti ditujukan kepada mantan kapolri yang terkenal jujur, sederhana, disiplin, bersih, tak mempan sogokan.

Nama Hoegeng Imam Santoso pemberian ayahnya sejak lahir. Waktu kecil perawakan dia bugel (gemuk) seperti ubi, lama-kelamaan dia dipanggil Bugeng, akhirnya berubah Hugeng. Tapi, setelah dewasa hingga akhir hayat tubuh Hoegeng tidak pernah gendut.

Kejujuran Hoegeng dalam keseharian maupun di lingkungan Polri tak diragukan lagi. Semua tercatat dalam buku yang diterbitkan Bentang Pustaka, Yogyakarta, Hoegeng. Saat bertugas di Medan, Sumatra Utara (Sumut), banyak peristiwa mencengangkan dilakukan ayah tiga anak ini. Dia mengeluarkan secara paksa perabotan di rumah dinasnya. Perabotan mahal-mahal itu ditaruh di pinggir jalan. Kelakuan itu bukan tanpa alasan. Barang-barang itu sebagai pelicin dari cukong agar bisnis ilegalnya berjalan mulus.

Hoegeng juga pernah marahmarah sambil melemparkan berbagai hadiah (parsel) ke luar jendela. Walaupun nilainya kecil, tetap saja itu sogokan, dan pasti ada maunya. Peristiwa itu seperti baru terjadi kemarin sore dan hingga kini melegenda di Kepolisian RI, khususnya di Medan, kata Jenderal Pol Kuntarto yang menjadi kapolda Sumut tahun 1987-1988.

Kehadiran Hoegeng di Sumut untuk menumpas bisnis ilegal, penyelundupan, dan judi. Bisnis itu berjalan lancar, karena saat itu ada backing dari oknum tentara dan oknum polisi. Hoegeng kemudian merunut jejak praktik kongkalikong itu. Ia menemukan, ujung-ujungnya adalah Cina Medan. Sedangkan oknum aparat tak lebih sebagai kacungnya. Sebuah kenyataan yang amat memalukan,gumam Hoegeng dengan geram dihalaman 50 buku itu.

Di tangan pria kelahiran Pekalongan ini, para penjudi dan penyelundup tak bisa berkutik. Semua ditangkap, termasuk para backing diproses secara hukum. Sukses di Sumut, Hoegeng mendapat tugas memberantas KKN di Jawatan Imigrasi, lalu menjadi menteri Iuran Negara. Dia pun berhasil menjalankan tugasnya. Lalu dikembalikan ke kepolisian sebagai kapolri menggantikan Soetjipto yang mundur.

Hoegeng dilantik oleh Presiden Soeharto pada 15 Mei 1968. Sebelumnya, Soeharto mengingatkan kepada Hoegeng agar polisi tak memikirkan tugas angkatan lain yang memiliki fungsi tempur. Hendaknya polisi menjalankan tugas sesuai fungsinya, dan jangan ada lagi faksi di kalangan perwira yang membuat persaingan tidak sehat. Hoegeng setuju. Namun, dia juga meminta agar angkatan lain pun tidak mencampuri urusan intern Kepolisian. Soeharto hanya diam. Bahkan hingga berhenti sebagai kapolri, Hoegeng tidak tahu bagaimana sikap Soeharto yang sebenarnya.

Selama menjadi kapolri, Hoegeng sangat disiplin. Sebelum jam tujuh pagi sudah datang di kantor. Dari rumah dinasnya di Menteng menuju Mabes Polri di Kebayoran Baru selalu ditempuh dengan rute berbeda. Cara ini dilakukan agar kapolri mengetahui kondisi lalu lintas, termasuk kesiagaan polisi lalu lintasnya. Jika terjadi kemacetan di ja lan, ia tak ragu turun dari ken daraannya mengatur lalu lintas. Hoegeng menjalankan dengan ikhlas, seraya memberi contoh kepada anak buahnya di lapangan.

Sebagai pucuk pimpinan Kepolisian, Hoegeng pun dekat dengan masyarakat. Baginya tidak perlu ada gardu penjaga di halaman rumah agar setiap orang tidak merasa takut atau enggan bertamu ke rumahnya. Dia menjadikan rumahnya sebagai perumahan komando yang terbuka 24 jam untuk urusan dinas kepolisian.

Selama ia menjabat sebagai kapolri ada dua kasus menggemparkan masyarakat. Pertama kasus Sum Kuning, yaitu pemerkosaan terhadap penjual telur, Sumarijem, yang diduga pelakunya anak-anak petinggi teras di Yogyakarta. Ironisnya, korban perkosaan malah dipenjara oleh polisi dengan tuduhan memberi keterangan palsu. Lalu merembet dianggap terlibat kegiatan ilegal PKI. Nuansa rekayasa semakin terang ketika persidangan digelar tertutup. Wartawan yang menulis kasus Sum harus berurusan dengan Dandim 096.

Hoegeng bertindak. Kita tidak gentar menghadapi orang-orang gede siapa pun. Kita hanya takut kepada Tuhan Yang Mahaesa. Jadi, walaupun keluarga sendiri, kalau salah tetap kita tindak. Geraklah the sooner the better, tegas Hoegeng di halaman 95.

Kasus lainnya yang menghebohkan adalah penyelundupan mobil-mobil mewah bernilai miliaran rupiah oleh Robby Tjah jadi. Berkat jaminan eseseorang, pengusaha ini hanya beberapa jam mendekam di tahanan Komdak. Sungguh berkuasanya si penjamin sampai Ke jaksaan Jakarta Raya pun memetieskan kasus ini. Siapakah si penjamin itu?

Tapi, Hoegeng tak gentar. Di kasus penyelundupan mobil mewah berikutnya, Robby tak berkutik. Pejabat yang terbukti menerima sogokan ditahan. Rumor yang santer, gara-gara membongkar kasus ini pula yang menyebabkan Hoegeng di pensiunkan, 2 Oktober 1971 dari jabatan kapolri. Kasus ini ter nya ta me libatkan sejumlah pe jabat dan perwira tinggi ABRI (hlm 118).

Bayangan banyak orang, memasuki masa pensiun orang pertama di kepolisian pasti menyenangkan. Tinggal menikmati rumah mewah berikut isinya, kendaraan siap pakai. Semua itu diperoleh dari sogokan para peng usaha.

Ternyata masa menyenangkan itu tidak berlaku bagi Hoegeng yang anti disogok. Pria yang pernah dinobatkan sebagai The Man of the Year 1970 ini pensiun tanpa memiliki rumah, kendaraan, maupun barang mewah. Rumah dinas menjadi milik Hoegeng atas pemberian dari Kepolisian. Beberapa kapolda patungan membeli mobil Kingswood, yang kemudian menjadi satu-satunya mobil yang ia miliki.

Selanjutnya, kegiatan masa pensiun suami dari Merry ini menyanyi, mengisi acara musik hawai di TVRI, melukis, dan obrolan di radio. Dia pun tetap peduli dengan Kepolisian. Jika ada hal-hal yang menyimpang, ia akan mengirim memo atau melaporkan ke petinggi Polri.

Seperti pada 1977, dia menerima laporan ada perwira polisi mempunyai rumah mewah di Kemang. Hoegeng gerah. Hasil penyelidikannya, ternyata terjadi korupsi mencapai Rp 6 miliar di bagian keuangan. Kasus ini melibatkan deputi kapolri, polisi bintang tiga, dan tiga perwira polisi. Ruang gerak dan hak ayah tiga anak ini terbelenggu sejak bergabung di Petisi 50, yang rajin mengkritik Soeharto.

Di buku setebal 334 halaman ini banyak nilai-nilai yang bisa dipetik oleh pembaca. Ternyata dalam sejarah kepolisian ada seorang jenderal yang jujur, antisogokan, sederhana, merakyat, dan siap melindungi siapa pun yang membutuhkan.

Kisah Hoegeng menjadi oase menyejukkan di tengah perilaku kolutif dan koruptif. Andaikan kepribadian Hoegeng bisa ditiru oleh banyak orang, betapa bahagianya menjadi rakyat Indonesia. Seharusnya buku ini menjadi buku saku bagi mereka.

Hoegeng meninggal dalam usia 82 tahun karena stroke. Namanya tetap harum, dan tak tergantikan. Ia yang membuat lambang Perguruan Tinggi Ilmu Kepo lisian (PTIK), karena kemahirannya melukis. Keingin annya memisahkan TNI dan Polri, kini sudah terlaksana. Ia pula yang mengganti sebutan panglima Angkatan Kepolisian menjadi kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (kapolri), dan ia pula yang mencetuskan perlunya penggunaan helm bagi pengendara sepeda motor. vie

sumber : Koran Republika, Minggu, 07 Juni 2009
Selengkapnya...

Alasan Dokter Bedah Berjubah Hijau... Emang kalo hitam?? siapa takut!!!

Pernah gak terpikir mengapa dokter ahli bedah menggunakan jubah atau baju berwarna hijau ketika sedang melakukan tugasnya?

Semula para dokter menggunakan warna putih sebagai pakaian bedah mereak, karena putih melambangkan kebersihan. Namun, seorang dokter berpengaruh menggantinya dengan warna hijau karena menurut dia warna hijau lebih nyaman di mata. Walaupu sulit dikonfirmasi mengapa warna hijau jadi populer karena alasan ini, hijau memang cocok bagi dokter untuk melihat lebih baik di ruang pembedahan, karena hijau adalah lawan dari warna merah dalam roda warna.

Menurut seorang ahli psikologi, melihat pada warna hijau dapat menyegarkan mata ahli bedah dalam melihat benda-benda bewarna merah, termasuk organ-organ tubuh yang berlumuran darah saat pembedahan. Melihat warna merah terus meneruts menyebabkan sinyal warna merah di otak memudar sensifitasnya terhadap variasi warna merah.

Alasan lainnya adalah, terus-menerus berfokus pada warna merah (darah)akan menyebabkan ilusi nofa berwarna hijau pada latar warna berwarna terang atau putih. Ini akan menggangu penlihatan dokter. Jika warna baju ahli bedah berwarna hijau, ilusi ini akan memudar dan tidak akan mengganggu penglihatan dokter.

Selengkapnya...

Ada yang salah dengan Ons dan Pound di Negara kita

Seorang teman saya yang bekerja pada sebuah perusahaan asing, di PHK akhir tahun lalu. Penyebabnya adalah kesalahan menerapkan dosis pengolahan limbah, yang telah berlangsung bertahun-tahun. Kesalahan ini terkuak ketika seorang pakar limbah dari suatu negara Eropa mengawasi secara langsung proses pengolahan limbah yang selama itu dianggap selalu gagal.

Pasalnya adalah, takaran timbang yang dipakai dalam buku petunjuknya menggunakan satuan pound dan ounce. Kesalahan fatal muncul karena yang bersangkutan mengartikan 1 pound = 0,5 kg. dan 1 ounce (ons) = 100 gram, sesuai pelajaran yang ia terima dari sekolah. Sebelum PHK dijatuhkan, teman saya diberi tenggang waktu 7 hari untuk membela diri dgn. cara menunjukkan acuan ilmiah yang menyatakan 1 ounce(ons) = 100 gram.

Usaha maksimum yang dilakukan hanya bisa menunjukkan Kamus Besar Bahasa
Indonesia yang mengartikan ons (bukan ditulis ounce) adalah satuan berat senilai 1/10 kilogram. Acuan lain termasuk tabel-tabel konversi yang berlaku sah atau dikenal secara internasional tidak bisa ditemukan.

SALAH KAPRAH YANG TURUN-TEMURUN

Prihatin dan penasaran atas kasus diatas, saya mencoba menanyakan hal ini kepada lembaga yang paling berwenang atas sistem takar-timbang dan ukur di Indonesia, yaitu Direktorat Metrologi . Ternyata, pihak Direktorat Metrologi-pun telah lama melarang pemakaian satuan ons untuk ekivalen 100 gram.

Mereka justru mengharuskan pemakaian satuan yang termasuk dalam Sistem Internasional (metrik) yang diberlakukan resmi di Indonesia. Untuk ukuran berat, satuannya adalah gram dan kelipatannya. Satuan Ons bukanlah bagian dari sistem metrik ini dan untuk menghilangkan kebiasaan memakai satuan ons ini, Direktorat Metrologi sejak lama telah memusnahkan semua anak timbangan (bandul atau timbal) yang bertulisan “ons” dan “pound”.

Lepas dari adanya kebiasaan kita mengatakan 1 ons = 100 gram dan 1 pound = 500 gram, ternyata tidak pernah ada acuan sistem takar-timbang legal atau pengakuan internasional atas satuan ons yang nilainya setara dengan 100 gram. Dan dalam sistem timbangan legal yang diakui dunia internasional, tidak pernah dikenal adanya satuan ONS khusus Indonesia.Jadi, hal ini adalah suatu kesalahan yang diwariskan turun-temurun.
Sampai kapan mau dipertahankan ?

BAGAIMANA KESALAHAN DIAJARKAN SECARA RESMI ?

Saya sendiri pernah menerima pengajaran salah ini ketika masih di bangku sekolah dasar. Namun, ketika saya memasuki dunia kerja nyata, kebiasaan salah yang nyata-nyata diajarkan itu harus dibuang jauh karena akan menyesatkan.

Beberapa sekolah telah saya datangi untuk melihat sejauh mana penyadaran akan penggunaan sistem takar-timbang yang benar dan sah dikemas dalam materi pelajaran secara benar, dan bagaimana para murid (anak-anak kita) menerapkan dalam hidup sehari-hari. Sungguh memprihatinkan. Semua sekolah mengajarkan bahwa 1 ons = 100 gram dan 1 pound = 500 gram, dan anak-anak kita pun menggunakannya dalam kegiatan
sehari-hari. “Racun” ini sudah tertanam didalam otak anak kita sejak usia dini.

Dari para guru, saya mendapatkan penjelasan bahwa semua buku pegangan yang diwajibkan atau disarankan oleh Departemen Pendidikan Indonesia mengajarkan seperti itu. Karena itu, tidaklah mungkin bagi para guru untuk melakukan koreksi selama Dep. Pendidikan belum merubah atau memberikan petunjuk resmi.

TANGGUNG JAWAB SIAPA ?

Maka, bila terjadi kasus-kasus serupa diatas, Departemen Pendidikan Nasional kita jangan lepas tangan. Tunjukkanlah kepada masyarakat kita terutama kepada para guru yang mengajarkan kesalahan ini, salah satu alasannya agar tidak menjadi beban psikologis bagi mereka ;

“Acuan sistem timbang legal yang mana yang pernah diakui / diberlakukan
secara internasional , yang menyatakan bahwa : 1 ons adalah 100 gram, 1 pound adalah 500 gram.”?

Kalau Dep. Pendidikan tidak bisa menunjukkan acuannya, mengapa hal ini diajarkan secara resmi di sekolah sampai sekarang ?

Pernahkan Dep. Pendidikan menelusuri, dinegara mana saja selain Indonesia berlaku konversi 1 ons = 100 gram dan 1 pound = 500 gram ?

Patut dipertanyakan pula, bagaimana tanggung jawab para penerbit buku pegangan sekolah yang melestarikan kesalahan ini ?

Kalau Departemen Pendidikan Nasional mau mempertahankan satuan ons yang keliru ini, sementara pemerintah sendiri melalui Direktorat Metrologi melarang pemakaian satuan “ons” dalam transaksi legal, maka konsekwensinya ialah harus dibuat sistem baru timbangan Indonesia (versi Depdiknas).. Sistem baru inipun harus diakui lebih dulu oleh dunia internasional sebelum diajarkan kepada anak-anak. Perlukah adanya sistem timbangan Indonesia yang konversinya adalah 1 ons (Depdiknas) = 100 gram dan 1 pound (Depdiknas) = 500 gram. ? Bagaimana “Ons dan Pound (Depdiknas)” ini dimasukkan dalam sistem metrik yang sudah baku diseluruh dunia ? Siapa yang mau pakai ?.

HENTIKAN SEGERA KESALAHAN INI.

Contoh kasus diatas hanyalah satu diantara sekian banyak problema yang merupakan akibat atau korban kesalahan pendidikan. Saya yakin masih banyak kasus-kasus senada yang terjadi, tetapi tidak kita dengar. Salah satu contoh kecil ialah, banyak sekali ibu-ibu yang mempraktekkan resep kue dari buku luar negeri tidak berhasil tanpa diketahui dimana kesalahannya.

Karena ini kesalahan pendidikan, masalah ini sebenarnya merupakan masalah nasional pendidikan kita yang mau tidak mau harus segera dihentikan.

Departemen Pendidikan tidak perlu malu dan basa-basi diplomatis mengenai hal ini. Mari kita pikirkan dampaknya bagi masa depan anak-anak Indonesia. Berikan teladan kepada bangsa ini untuk tidak malu memperbaiki kesalahan.

Sekalipun hanya untuk pelajaran di sekolah, dalam hal Takar-Timbang- Ukur, Dep. Pendidikan tidak memiliki supremasi sedikitpun terhadap Direktorat Metrologi sebagai lembaga yang paling berwenang di Indonesia. Mari kita ikuti satu acuan saja, yaitu Direktorat Meteorologi.dan Geofisika.

Era Globalisasi tidak mungkin kita hindari, dan karena itu anak-anak kita harus dipersiapkan dengan benar. Benar dalam arti landasannya, prosesnya, materinya maupun arah pendidikannya. Mengejar ketertinggalan dalam hal kualitas SDM negara tetangga saja sudah merupakan upaya yang sangat berat.

Janganlah malah diperberat dengan pelajaran sampah yang justru bakal menyesatkan. Didiklah anak-anak kita untuk mengenal dan mengikuti aturan dan standar yang berlaku SAH dan DIAKUI secara internasional, bukan hanya yang rekayasa lokal saja. Jangan ada lagi korban akibat pendidikan yang salah. Kita lihat yang nyata saja, berapa banyak TKI diluar negeri yang berarti harus mengikuti acuan yang berlaku secara internasional.

Anak-anak kita memiliki HAK untuk mendapatkan pendidikan yang benar sebagai upaya mempersiapkan diri menyongsong masa depannya yang akan penuh dengan tantangan berat.

ACUAN MANA YANG BENAR ?

Banyak sekali literatur, khususnya yang dipakai dalam dunia tehnik, dan juga ensiklopedi ternama seperti Britannica, Oxford, dll. (maaf, ini bukan promosi) menyajikan tabel-tabel konversi yang tidak perlu diragukan lagi.

Selain pada buku literatur, tabel-tabel konversi semacam itu dapat dijumpai dengan mudah di-dalam buku harian / diary/agenda yang biasanya diberikan oleh toko atau produsen suatu produk sebagai sarana promosi.

Salah satu konversi untuk satuan berat yang umum dipakai SAH secara
internasional adalah sistem avoirdupois / avdp. (baca : averdupoiz).

1 ounce/ons/onza = 28,35 gram (bukan 100 g.)

1 pound = 453 gram (bukan 500 g.)

1 pound = 16 ounce (bukan 5 ons)

Bayangkan saja, bagaimana jadinya kalau seorang apoteker meracik resep obat yang seharusnya hanya diberi 28 gram, namun diberi 100 gram. Apakah kesalahan semacam ini bisa di kategorikan sebagai malapraktek ? Pelajarannya memang begitu, kalau murid tidak mengerti, dihukum !!!
Jadi, kalau malapraktik, logikanya adalah tanggung jawab yang mengajarkan.
(ini hanya gambaran / ilustrasi salah satu akibat yang bisa ditimbulkan,
bukan kejadian sebenarnya, tetapi dalam bidang lain banyak sekali terjadi)

KALAU BUKAN KITA YANG MENYELAMATKAN – LALU SIAPA ?.

Melalui tulisan ini saya ingin mengajak semua kalangan, baik kalangan pemerintah, akademis, profesi, bisnis / pedagang, sekolah dan orang tua dan juga yang lainnya untuk ikut serta mendukung penghapusan satuan “ons” dan pound yang keliru” dari kegiatan kita sehari-hari. Pengajaran sistem timbang dgn. satuan Ounce dan Pound seharusnya diberikan sebagai pengetahuan disertai kejelasan asal-usul serta rumus konversi yang
benar. Hal ini untuk membuang kebiasaan salah yang telah melekat dalam kebiasaan kita, yang bisa mencelakakan / menyesatkan anak-anak kita, generasi penerus bangsa ini.

Selengkapnya...

Sebuah Koin Penyok

Alkisah, seorang lelaki keluar dari pekarangan rumahnya, berjalan tak tentu
arah dengan rasa putus asa. Sudah cukup lama ia menganggur. Kondisi finansial keluarganya morat-marit. Sementara para tetangganya sibuk memenuhi rumah dengan barang-barang mewah, ia masih bergelut memikirkan cara memenuhi kebutuhan pokok keluarganya, sandang dan pangan. Anak-anaknya sudah lama tak dibelikan pakaian, istrinya sering marah-marah karena tak dapat membeli barang-barang rumah tangga yang layak. Laki-laki itu sudah tak tahan dengan kondisi ini, dan ia tidak yakin bahwa perjalanannya kali inipun akan membawa keberuntungan, yakni mendapatkan pekerjaan.

Ketika laki-laki itu tengah menyusuri jalanan sepi, tiba-tiba kakinya terantuk sesuatu. Karena merasa penasaran ia membungkuk dan mengambilnya. "Uh, hanya sebuah koin kuno yang sudah penyok-penyok, " gerutunya kecewa. Meskipun begitu ia membawa koin itu ke sebuah bank. "Sebaiknya koin in Bapak bawa saja ke kolektor uang kuno," kata teller itu memberi saran. Lelaki itupun mengikuti anjuran si teller, membawa koinnya ke kolektor. Beruntung sekali, si kolektor menghargai koin itu senilai 30 dollar. Begitu senangnya, lelaki tersebut mulai memikirkan apa yang akan dia lakukan dengan rejeki nomplok ini.

Ketika melewati sebuah toko perkakas, dilihatnya beberapa lembar kayu sedang diobral. Dia bisa membuatkan beberapa rak untuk istrinya karena istrinya pernah berkata mereka tak punya tempat untuk menyimpan jambangan dan stoples. Sesudah membeli kayu seharga 30 dollar, dia memanggul kayu tersebut dan beranjak pulang. Di tengah perjalanan dia melewati bengkel seorang pembuat mebel. Mata pemilik bengkel sudah terlatih melihat kayu yang dipanggul lelaki itu. Kayunya indah, warnanya bagus, dan mutunya terkenal. Kebetulan pada
waktu itu ada pesanan mebel. Dia menawarkan uang sejumlah 100 dollar kepada lelaki itu. Terlihat ragu-ragu di mata laki-laki itu, namun pengrajin itu meyakinkannya dan dapat menawarkannya mebel yang sudah jadi agar dipilih lelaki itu. Kebetulan di sana ada lemari yang pasti disukai istrinya.

Dia menukar kayu tersebut dan meminjam sebuah gerobak untuk membawa lemari itu. Dia pun segera membawanya pulang. Di tengah perjalanan dia melewati perumahan baru. Seorang wanita yang sedang mendekorasi rumah barunya melongok keluar jendela dan melihat lelaki itu mendorong gerobak berisi lemari yang indah. Si wanita terpikat dan menawar dengan harga 200
dollar. Ketika lelaki itu nampak ragu-ragu, si wanita menaikkan tawarannya menjadi 250 dollar. Lelaki itupun setuju. Kemudian mengembalikan gerobak ke pengrajin dan beranjak pulang.

Di pintu desa dia berhenti sejenak dan ingin memastikan uang yang ia terima. Ia merogoh sakunya dan menghitung lembaran bernilai 250 dollar. Pada saat itu seorang perampok keluar dari semak-semak, mengacungkan belati, merampas uang itu, lalu kabur.

Istri si lelaki kebetulan melihat dan berlari mendekati suaminya seraya berkata, "Apa yang terjadi? Engkau baik saja kan ? Apa yang diambil oleh perampok tadi?" Lelaki itu mengangkat bahunya dan berkata, "Oh, bukan apa-apa.. Hanya sebuah koin penyok yang kutemukan tadi pagi".
Selengkapnya...

Anton Apriantono...Menteri Termiskin di Kabinet Indonesia Bersatu!!!

Anton Apriantono, Menteri Termiskin di Kabinet Indonesia Bersatu. Ke Daerah, dengan Tiket Ekonomi, Nginap di Rumah Petani. Di Kabinet Indonesia Bersatu, Menteri Pertanian (Mentan) Anton Apriantono dijuluki sebagai menteri termiskin. Sebab, berdasar laporan harta kekayaan penyelenggara negara (LHKPN), total kekayaannya “hanya” Rp 388.936 juta. Bagaimana kesehariannya?

Bikin janji untuk bertemu Anton Apriantono tidak terlalu sulit. Di antara menteri yang duduk di Kabinet Indonesia Bersatu, pria yang lama menjadi dosen di Institut Pertanian Bogor (IPB) itu termasuk yang paling mudah dihubungi melalui ponselnya.

Kemarin sore, Jawa Pos diberi kesempatan bertamu di rumah Anton di kompleks perumahan dinas para menteri, tepatnya di Jl Widya Chandra V. Begitu masuk ke halaman rumahnya, seorang petugas keamanan dengan tulisan nama Sukim di dadanya ramah mempersilakan masuk. “Cari Bapak ya, silakan langsung saja ke ruang tamu,” ujarnya.

Halaman depan rumah dinas Anton tampak bersih. Aneka tanaman hias disusun rapi dalam pot yang berisi tanah liat. Tidak ada tanaman perindang besar, kecuali sebuah palem kipas yang ditanam di pojok pagar. Berbeda dari rumah menteri lainnya, di garasi rumah Anton, hanya ada dua mobil yang diparkir. Yakni, Kijang abu-abu keluaran 1994 dan mobil dinas rumah dinas menteri-menteri lain yang, selain berisi mobil dinas, terdapat beberapa mobil lain keluaran terbaru.

“Assalamu ‘alaikum, apa kabar?” kata Anton ramah yang muncul dari ruang tengah. Pria kelahiran 5 Oktober 1959 tersebut muncul dengan kemeja lengan panjang bercorak garis-garis. “Hari ini banyak tamu. Maklum, masih suasana Idul Fitri,” ujarnya. Dia menceritakan, selama Lebaran, keluarganya lebih banyak berada di Jakarta . Hanya hari pertama keluarganya berkunjung ke Serang dan Bogor ,Jawa Barat.

Pada awal pembicaraan, dia lebih banyak menceritakan tentang kesibukannya sebagai menteri, sehingga waktu untuk keluarga berkurang. “Karena itu, setiap di rumah, saya manfaatkan betul untuk keluarga. Rasanya sih mereka tidak pernah mengeluh,” ungkapnya. Sejak menjadi menteri, Anton memboyong keluarganya tinggal di rumah dinas. Rumahnya di Bogor dibiarkan kosong. Di tengah mengobrol dengan Jawa Pos, putri tunggalnya, Sri Rahayu, masuk membawa secangkir teh. “Silakan diminum. Kebetulan, saat ini saya sedang puasa Syawal,” kata menteri yang diusulkan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) tersebut.

Ketika disinggung seputar kekayaannya berdasar LHKPN dan diumumkan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), dia hanya tersenyum. “Saya bersyukur dianggap begitu (disebut menteri termiskin). Pokoknya, kalau dibandingkan menteri lain, nggak mungkin bisa ngejar, apalagi sama Pak Ical (Menko Kesra Aburizal Bakrie yang dijuluki sebagai menteri terkaya dalam kabinet SBY, Red),” ujarnya lantas tertawa. Dia menjelaskan, sejak menjadi dosen dan kepala laboratorium di IPB, Anton terbiasa menabung. Hasilnya, dia mampu membeli aset berupa tanah di Bogor .

Kegemaran berhemat itu diteruskan sampai sekarang. “Sebagian berasal dari gaji dan uang perjalanan ke luar negeri. Itu pun sudah berlebih,” tegasnya. Suami Rossi Rozzana tersebut mengaku, kehidupannya saat masih menjadi dosen sudah cukup. “Apalagi sekarang, apa sih yang mau kita kejar? Makan saja tak lebih dari sepiring,” katanya. Sebagai menteri, dia mengaku digaji Rp 19 juta per bulan. Selain dari gaji, pendapatan Anton diperoleh dari honor menjadi narasumber di seminar. Sebelum menjadi menteri, dia memang sering diundang sebagai ahli di bidang kimia pangan. “Tapi, honorarium dari seminar biasanya dikelola staf,” jelasnya. Menurut doktor lulusan University of Reading , Inggris, tersebut, kunci perbaikan departemen yang dipimpinnya bermula dari diri sendiri.

“Kalau pemimpin tak bisa jadi uswah (teladan, Red), jangan berharap anak buah mengikuti,” ujarnya. Anton lantas mencontohkan saat dirinya melakukan perjalanan dinas ke daerah menggunakan pesawat. Dia tidak pernah mau naik kelas bisnis. Dia selalu minta diberi tiket ekonomi. Demikian pula ketika harus menginap di suatu daerah. Anton tidak pernah mau diinapkan di hotel berbintang lebih dari tiga. “Kalau menterinya (pakai) ekonomi, anak buahnya nggak ada yang berani (di kelas) bisnis,” ungkapnya lantas tersenyum.

Menurut dia, budaya Orde Baru, yakni daerah harus selalu menyambut pejabat pusat dengan servis VVIP, harus dikikis habis. “Saya lebih suka menginap di rumah petani daripada di hotel. Mereka itu orang yang apa adanya. Tidak ada yang dibuat-buat, ” tegasnya. Dia lantas menceritakan pengalamannya ketika menginap di rumah salah seorang petani di Karawang. “Saat itu, atap rumahnya sudah mau roboh,” katanya seraya tersenyum lebar. Anton mengaku, saat ini dirinya sedang memperjuangkan budaya keterbukaan didepartemen yang dipimpinnya. Salah satu contohnya, nomor HP-nya terbuka bagiseluruh anak buahnya. Termasuk, pegawai dan penyuluh lapangan di daerah. “Dari mereka, saya bisa tahu keluhan di lapangan. Termasuk, jika ada laporan korupsi, langsung saya minta ditindaklanjuti oleh Irjen (inspektorat jenderal, Red),” jelasnya.

Dia juga sering mengajak anak buahnya outbound (training di alam). “Kalau dialam, perilaku aslinya terlihat,” ujarnya. Dua minggu sekali, dia menggelar rapat pimpinan yang diakhiri dengan masing-masing saling memberi nasihat. “Jadi, kalau tidak sesuai dengan yang diomongkan, orangnya malu,” katanya. Kesederhanaan tersebut Anton diakui sekretaris pribadinya, Dr Abdul Munif. “Saya sampai malu karena bapak sering ngotot pakai kelas ekonomi saat kunjungan ke daerah. Kadang-kadang, sampai saya akali dengan mengatakan tiket ekonomi sudah habis,” ungkapnya. Alumnus Bonn University , Jerman, yang mendampingi Anton sejak sebelum menjadi menteri itu mengaku, hal tersebut dilakukan untuk menjaga kehormatan Anton sebagai menteri. “Itu kalau kebetulan sedang bersama menteri lain atau ada tamu dari luar negeri. Kalau berangkat sendiri, hampir selalu ekonomi,” jelasnya.

Saat mengunjungi daerah, Munif mengaku banyak pejabat dan bupati yang heran mengetahui kebiasaan Anton. “Awalnya, mereka (bupati dan pejabat daerah) heran. Tapi, dua tahun ini sudah biasa. Mereka malah berterima kasih,” ujarnya. Dia menyatakan, satu hal yang paling berkesan adalah perhatian Anton kepada anak buah. Di antaranya, Anton selalu mengingat nama dan kebiasaan-kebiasaan kecil stafnya. “Beliau tak risi mengirimkan ucapan selamat ulang tahun atau memberikan bantuan ketika ada yang punya gawe,” ungkapnya. (*)

Subhanalloh, pemimpin seperti inilah yang sepatutnya kita contoh. Meskipun punya jabatan tapi tetap hidup sederhana, tidak ada gengsi-gengsian dimana kebanyakan pemimpin-pemimpin di negara kita identik dengan kehidupan yang glamor. Yang diutamakan adalah bagamana amanah yang dembannya dapat dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.

original by: RIDLWAN HABIB, Jakarta
Selengkapnya...

Bagaimana Prinsip Kerja Kapal Selam...

Prinsip dasar yang membuat kapal selam dapat menyelam atau muncul di permukaan adalah sangat sederhana. Kapal selam-kapal selam yang paling modern mempunyai dua lambung, atau badan. Balas air disimpan antara lambung bagian dalam dan lambung bagian luar, yang dapat dianggap sama dengan "kerangka".

Ketika kapal selam siap untuk menyelam, katup-katup besar yang dikenal sebagai "kingstons", yang terletak di dasar tangki balas, dibuka untuk membiarkannya masuk ke laut. Udara di dalam tangki keluar melalui katup-katup pada bagian atas, yang dikenal sebagai "lubang-lubang angin". Kapal selam itu masuk ke dalam air!


Ketika kapal selam siap untuk muncul ke permukaan, lubang-lubang angin ditutup dan tekanan udara didorong masuk ke dalam tangki-tangki. Hal ini meniup air kembali melalui kingstons, dan kapal selam itu pun naik.


Agar kapal selam dapat menyelam dan muncul ke permukaan, ada kemudi-kemudi horisontal yang dipasang pada lambung kapal. Untuk mengemudikan kapal selam ketika bergerak ke atas, ada sebuah kemudi sama seperti kapal-kapal biasa.

Kapal selam dibagi oleh dinding-dinding pemisah yang bersilang, menjadi kompartemen-kompartemen. Untuk keluar dari satu kompartemen ke kompartemen lain, seseorang harus melalui pintu-pintu kedap air, yang dapat menutup dengan cepat. Semua kapal selam mempunyai lubang-lubang palka dan paru-paru pengaman untuk digunakan dalam keadaan darurat.

Bagaimana kapal selam mengetahui ke mana kapal itu akan pergi? Observasi dilakukan dengan menggunakan periskop, yang terdiri dari tabung panjang yang dapat didorong ke atas dari bagian dalam kapal. Dengan menggunakan kombinasi prisma, seseorang yang berada pada ujung bawah periskop dapat melihat obyek-obyek di atas permukaan. Dengan memutar tabung periskop, ia dapat melihat semua pemandangan di samudera.

Semua kapal selam juga mempunyai alat-alat pendengar yang dapat menangkap dan menempatkan suara kapal-kapal yang jauh, dan radar yang membuat kapal-kapal selam itu dapat menemukan obyek-obyek ketika berada di atas permukaan.

Pada tahun 1951, kapal selam atom yang pertama di dunia dibuat, dan diluncurkan pada tanggal 21 Juli 1955. (L.A.N.)

Selengkapnya...